Penyanderaan 10 WNI oleh Kelompok Abu Sayyaf
1. Kronologi
Berita duka datang dari
negeri ini, kali ini 10 Warga Negara
Indonesia (WNI) disandera
oleh kelompok Abu Sayyaf, Filipina. 10 WNI
tersebut sedang berlayar dengan dua kapal, kapal
tongkang Anand 12 dan kapal Brahma 12 dibajak di
perairan Filipina pada 26 Maret 2016 dari Sungai Puting di Kalimantan
Selatan menuju Filipina. Kapal yang ditumpangi para WNI membawa batu bara
seberat 7.000 ton.
Namun, kapal Brahma 12 sudah dilepas dan sudah
berada di tangan otoritas Filipina.
Berbeda dengan Brahma 12, KM Anand 12 dan 10
awak kapal masih berada di tangan pembajak, Kapal tersebut milik PT Patria
Maritime Lines, anak perusahaan dari PT United Tractors Pandu Engineering.
Kelompok Abu Sayyaf sebelumnya meminta tebusan 50 juta peso atau Rp 15 miliar
dan dibayarkan paling lamat pada 8 April 2016. Namun hingga tenggat waktu
lewat, belum ada informasi apakah tebusan sudah dibayarkan atau belum.
Berikut
nama-nama korban yang diculik oleh kelompok Abu Sayyaf di
perairan Filipina:
1. Peter Tonsen Barahama, 30 tahun.
2. Julian Philip, 50 tahun
3. Alfian Elvis Repi, 32 tahun
4. Mahmud, 30 tahun
5. Suriansyah, 33 tahun
6. Surianto, 30 tahun
7. Wawan Saputra, 22 tahun
8. Bay Oktavianto, 22 tahun
9. Rinaldi, 24 tahun
10. Wendi Rakhadian, 28 tahun
Gambar kronologi
Bukan
hanya itu saja, kasus penyandraan 10 WNI terjadi “lagi” pembajakan, pembajakan
kali ini menimpa 10 orang WNI yang merupakan awak kapal TB Henry yang menarik
tongkang Christy. Dari 10 WNI tersebut, 4 yang diculik dan 6
selamat dan satu di antaranya luka kena tembak, Ke
6 Warga Negara Indonesia (WNI) yang berhasil selamat saat ini tengah
mendapatkan perawatan intensif.
Pembajakan
terjadi ketika kapal dalam perjalanan dari Kota Cebu, Filipina, kembali menuju
Tarakan, tepatnya pada titik koordinat 4*-31'26'' N/ 119*-00''00" E, atau
sekitar 15 mil dari Tawau, Malaysia.
Dugaan
sementara, kelompok Abu Sayyaf masih menjadi aktor dalam perompakan ketiga
dalam 30 hari belakangan di perairan yang sama itu.
Dari data crew list TB Henry PT Global Trans Energy International, memang benar
ada sepuluh orang di kapal tersebut.(adk/jpnn)
Crew List TB Henry
1. Moch Ariyanto Misnan
(master)
2. Loren Marinus Petrus Rumawi (chief officer)
3. Dede Irfan Hilmi (second officer)
4. Yohanis Serang (chief enginer)
5. Sembara Oktafian (second enginer)
6. Leonard Bastian (third enginer)
7. Rohaidi (A/B)
8. Samsir (A/B)
9. Royke Fransy Montolalu A/B)
10. Lambas Simanungkalit (oiler)
Berikut kronologi dan tanggal kejadian
26 Maret 2016
Dua kapal berbendera Indonesia dibajak oleh
kelompok Abu Sayyaf saat sedang berlayar dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan
menuju ke Batangas, Filipina selatan. Dua kapal yang dibajak itu adalah kapal
Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 10 orang awak kapal
berkewarganegaraan Indonesia.
29 Maret
Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kepala
Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti dan Panglima
TNI Gatot Nurmantyo untuk melacak jejak para penyandera dan ke-10 WNI tersebut.
TNI juga telah menyiapkan pasukan terbaik mereka untuk terjun ke lokasi setiap
saat.
31 Maret
Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) meyakini
operasi pembebasan sandera asal Indonesia yang kini ditawan militan Abu Sayyaf,
masih bisa mereka tangani sendiri. Dengan begitu, tawaran bantuan militer
Indonesia yang sekarang sudah menyiagakan armada tempur di Tarakan serta
Bitung, ditolak secara halus, seperti dilansir inquirer.net.
8 April
Umar Patek siap membantu pemerintah untuk
membebaskan WNI yang disandera Abu Sayyaf. Terpidana kasus terorisme 20 tahun
bui itu pun mengaku tanpa pamrih apapun, asalkan persyaratan secara teknis
dipenuhi.
10 April
18 Prajurit Filipina tewas dalam operasi
pembebasan sandera di Pulau Jolo, Basilan. Mereka tiba-tiba disergap saat dalam
perjalanan menuju medan pertempuran. Meski begitu, lima militan berhasil
ditembak mati.
12 April
Setelah terpukul mundur, Militer
Filipina kembali menggelar operasi penyergapan lanjutan selama 10 jam pada hari
berikutnya sepanjang Minggu (10/4) malam hingga Senin (11/4) dini hari, di
lokasi yang sama, menurut keterangan juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina
(AFP). Berkat operasi lanjutan itu, dipastikan 13 militan tewas.
15 April
Pukul 18.31 telah kapal berbendera Indonesia,
yaitu kapal tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi di perairan perbatasan
Malaysia-Filipina kembali dibajak. Kapal tersebut dalam perjalanan kembali dari
Cebu, Filipina menuju Tarakan. Kapal membawa 10 orang ABK WNI.
Dalam pembajakan kali ini, seorang ABK tertembak.
Sementara itu, lima orang berhasil selamat, sedangkan empat lainnya diculik
oleh kelompok tersebut.
26 April
Militan Abu Sayyaf menepati ancaman yang mereka
sebar sejak pekan lalu untuk mulai mengeksekusi tiga sandera asing dan satu
tawanan asli Filipina. Korban pertama adalah John Ridsdel (68) asal Kanada.
Tentara Filipina menemukan kepala pria ini di salah satu pulau kosong kawasan
Jolo. Penemuan itu terjadi lima jam setelah tenggat pembayaran tebusan lewat.
29 April
Militer Filipina mengerahkan pesawat tempur
membombardir titik-titik diduga markas militan Abu Sayyaf di pedalaman Pulau
Jolo, Provinsi Sulu. Salah satu sandera asal Malaysia, Wong Teck Chi,
menghubungi orang tuanya lewat sambungan telepon tiga hari lalu. Dia mengaku
dipaksa lari berpindah-pindah tempat nyaris setiap beberapa jam sekali oleh
para penculiknya.
29 April
Brigadir Jenderal Alan Arrojado yang selama
delapan bulan terakhir memimpin Brigade 501 Provinsi Sulu dicopot. Dia
digantikan oleh Kolonel Jose Faustino selepas satu sandera asal Kanada
dipenggal oleh militan Abu Sayyaf di Pulau Jolo.
1 Mei
10 ABK Warga Negara Indonesia telah dibebaskan
oleh kelompok militan Abu Sayyaf di daerah Sulu pada Minggu siang hari ini.
Polisi wilayah Provinsi Sulu, Wilfredo Cayat mengonfirmasi perihal pembebasan
ini.
"Kita infokan ada seorang tidak diketahui
menaruh 10 WNI di depan rumah dari Gubernur Sulu (Abdusakur) Toto Tan
(II)," kata Cayat, seperti dikutip dari laman the Star, Minggu (5/1).
Presiden Jokowi memastikan 10 WNI tengah malam ini
tiba di Lanud Halim Perdanakusuma. Namun sampai saat ini masih ada 4 WNI yang
disandera.
2.
Stategi
negara dalam penyelesaian masalah
Dalam strategi pembebasan
WNI yang disandera Pemerintah Indonesia, TNI, dan Pihak Filipina sangat
berperan aktif dalam usaha mengembalikan WNI ketanah air dengan selamat. Seperti
berikut ini strategi pembebasan WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.
Berikut 4 strategi negara
yang pakai untuk melawan Abu Sayyaf
1.
Pemerintah utamakan dialog buat
bebaskan 10 WNI disandera Abu SayyafMerdeka.com
- Presiden Joko Widodo menegaskan
pemerintah berkomitmen penuh untuk membebaskan 10 awak kapal asal Indonesia
yang disandera oleh kelompok garis keras Abu Sayyaf di Filipina. Untuk
membebaskan 10 WNI itu, opsi dialog akan dikedepankan oleh pemerintah
Indonesia.
"Opsi dialog tetap dilakukan, untuk menyelamatkan yang disandera,"
kata Jokowi usai menonton babak pertama final Bhayangkara di Gelora Bung Karno, Jakarta,
Minggu (3/4).
Saat ditanya apakah pemerintah akan membayar uang tebusan 50 juta Peso seperti
yang diminta oleh kelompok Abu Sayyaf apabila sudah mentok, dia kembali hanya
menyatakan opsi dialog akan diutamakan.
"Ya ini tadi yang terakhir opsi dialog," ujarnya.
Jokowi juga telah meminta Menteri Luar Negeri Retno L.P
Marsudi terbang ke Filipina untuk
melakukan koordinasi dengan pemerintahan Filipina.
2. TNI
siapkan kapal untuk bebaskan 10 WNI disandera kelompok militan Filipina
TNI tengah mempersiapkan diri untuk upaya pembebasan 10 WNI yang disandera
kelompok Abu Sayyaf di perairan Filipina. Kepala Staf TNI Angkatan Laut,
Laksamana TNI Ade Supandi menyatakan, pihaknya telah menyiapkan kapal untuk
membantu pembebasan warga negara Indonesia itu.
"Untuk
pembebasan Panglima TNI yang mengatur, semua ada konsepnya," kata Ade
seperti dikutip di Antara, Rabu (30/3).
Ade menegaskan, Indonesia sudah mempunyai
pengalaman dalam pembebasan sandera. Yaitu saat membebaskan kapal yang di
sandera di Somalia.
3. Indonesia
desak Filipina jamin nasib 10 WNI disandera Abu Sayyaf
Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) menolak pasukan TNI turun tangan dalam upaya
membebaskan sepuluh awak kapal tunda yang disandera kelompok garis keras Abu
Sayyaf. Mereka beralasan dapat menangani sendiri tanpa adanya bantuan dari
negara lain.
Sekretaris Kabinet Pramono
Anung menyatakan
pemerintah menghormati sikap Filipina tersebut. Dia hanya menekankan yang
terpenting Filipina dapat menjamin keselamatan sepuluh awak kapal disandera
itu.
4. Jika
diminta, pemerintah siap kirimkan perwira kopasus bantu militer Filipina
bebaskan 10 WNI dari sandera Abu Sayyaf
Menteri
Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Indonesia Luhut
Binsar Pandjaitan ikut
angkat bicara soal perkembangan 10 warga negara Indonesia yang ditawan oleh
kelompok militan garis keras Filipina Abu Sayyaf. Luhut mengatakan, dari pihak
Filipina sendiri sudah ada pergerakan ke wilayah tempat para anak buah kapal
asal Indonesia itu disekap.
Luhut
mengungkapkan, ada tiga pasukan militer Filipina yang mengepung wilayah
Provinsi Sulu, tempat 10 ABK itu diduga dibawa oleh militan Abu Sayyaf.
Luhut mengungkapkan jika Filipina
mengizinkan, dia akan mengirim perwira ke sana untuk memberikan asistensi.
3. Pendapat jika terjadi hal yang serupa, Apa yang harus
dilakukan oleh pihak kita
Kejadian
duka seperti ini bias dijadikan pelajaran untuk negara kita, agar lebih
berhati-hati khususnya dalam dunia kelautan agar sebisa mugkin tidak terulang
kembali kejadian duka untuk negara kita.
Namun jika sampai terjadi hal yang serupa pada WNI, pemerintah harus lebih baik
dalam penangannya. Pihak negara kita harus lebih cepat dalam mengambil
tindakan. Misalkan dalam tahap negosiasi negara kita harus lebih cepat apakah
akan mengambil kesepakatan dalam negosiasi atau akan mengambil jalan lain. Bila
mengambil jalan negara kita harus lebih cepat juga mengambil tindakan untuk
turun langsung kelapangan tanpa ditunda-tunda.
atau bila negera kita tidak mampu menyelesaikan masalah ini, jangan menunggu
lama untuk meminta bantuan negara lain.
Untuk mencegah
kejadian serupa terjadi negara kita harus lebih perketat perbatasan negara, darat,
udara atau pun laut. Seperti lebih sering melakukan patroli.
Untuk masyarat sendiri agar lebih hati-hati dan waspada agar terhindar dari
kejadian serupa, dan akan lebih baik bila masyarakat yang keluar negeri
khususnya yang bekerja di kelautan dibekali
dasar-dasar beladiri atau bertahan hidup di alam agar lebih siap menghadapi hal
serupa.
Referensi :